Banner Media
Banner Media

Gubernur Provinsi  Lampung Rahmad Mirzani Djausal  Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa di Pesawaran

banner 468x60

Pesawaran  Biba News. – Gubernur Provinsi  Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong hilirisasi kakao mulai dari desa. Ini agar petani langsung menikmati nilai tambah perkebunan. Keterbatasan fasilitas pengering membuat petani hanya bisa menjual mahal saat musim kemarau.

“Strategi Lampung ke depan adalah mendesain struktur ekonomi agar inklusif, memakmurkan dan mengentaskan kemiskinan. Caranya hilirisasi, nilai tambah harus dari sumber bahan baku, yaitu di desa-desa,” kata Gubernur Mirza saat pemberdayaan desa wisata melalui pelatihan, penyerahan solar dryer, dan akselerasi ekonomi komoditas kakao di Pekon Ampai, Marga Punduh, Pesawaran, Kamis 8 Oktober 2026

Example 300x600

Solar dryer bantuan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi solusi pengeringan di tingkat petani. Teknologi sederhana itu memungkinkan petani menghasilkan kakao kering secara konsisten sepanjang tahun

“Selama ini, saat panen di musim hujan, kakao basah terpaksa dijual murah karena tak ada pengering,” ujarnya

Ia menyebut, harga kakao basah dalam kondisi tertentu Rp20 ribu-Rp30 ribu per kilogram. Setelah kering bisa Rp70 ribu-Rp80 ribu. Pengeringan menjadi titik penting meningkatkan pendapatan petani

“Cokelat mahal kalau kering. Tapi petani hanya bisa jual mahal tiga atau empat bulan. Kondisi itu membuat pendapatan petani sangat bergantung cuaca dan musim panen,” terangnya

Pemprov Lampung mendorong agar nilai tambah tak berhenti penjualan bahan mentah. Dari total komoditas Lampung sekitar Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru Rp40 triliun atau di bawah 30 persen yang mengalami hilirisasi. Sebagian besar nilai tambah justru industri besar nikmati, sementara bahan baku dari desa

Karena itu, Mirza berharap Pekon Ampai tak hanya menjadi tempat pengeringan, tapi menjadi pusat produksi solar dryer

“Yang saya harapkan di Pekon Ampai tak hanya bisa mengeringkan, tapi bisa mencontoh, membuat pengering seperti ini, mendistribusikan, dan menjual pengering solar dryer ini di sepanjang pesisir Lampung,” jelasnya

Mirza menyebut produksi kakao Pesawaran termasuk terbesar di Indonesia dan tertinggi di Lampung, khususnya di wilayah pesisir

Data dari Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Lampung Eti Eliati memperkuat gambaran tersebut. Pesawaran memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun

OJK mendorong pengembangan melalui ekosistem closed-loop yang menghubungkan sektor hulu dan hilir. Skema ini mencakup akses pembiayaan, mitigasi risiko oleh penjamin, kepastian pasar dan harga melalui offtaker serta industri pengolahan, hingga pendampingan pemerintah daerah dan akademisi

Pada kegiatan itu PNM merealisasikan pembiayaan Rp318 juta untuk 50 debitur petani kakao. Dari sisi pembiayaan ultra mikro, PNM memiliki 490.000 nasabah di Lampung. Hingga September 2026, outstanding pembiayaan sekitar Rp2 triliun dan penyaluran sepanjang 2026 mencapai Rp2,04 triliun.

Di Pesawaran, nasabah PNM Mekaar 29.383 orang dengan outstanding Rp125,86 miliar
Pengembangan juga diperkuat lewat UMKM berbasis kakao. Gubernur meninjau usaha warga dan mendorong naik skala usaha

Mirza juga mengaitkan kakao dengan Desa Wisata Budaya Pekon Ampai. Pekon ini berstatus Kampung Tua berdasarkan Perda Pesawaran Nomor 6 Tahun 2019 dan memiliki potensi agroforestri kakao lewat perhutanan sosial

Menurutnya, letak Pekon Ampai strategis di antara destinasi wisata, seperti Gigi Hiu, Kiluan, Pulau Wayang, Pahawang, hingga Legundi

“Pekon Ampai harus memanfaatkan letak strategis ini. Kalau budaya maju dan lestari, semua orang akan datang melihat indahnya budaya Lampung,” kata Mirza

Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian menyebut dari 10 desa yang diusulkan, bantuan solar dryer diberikan ke tiga desa, yakni Sidodadi, Maja, dan Pekon Ampai. Dia meminta warga merawat fasilitas secara gotong royong

Pengembangan kakao diarahkan pada peningkatan kualitas lewat pengolahan dan fermentasi. OJK menilai peningkatan kapasitas petani, peremajaan tanaman, pencegahan alih fungsi hutan serta pengolahan dari biji mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi menjadi bagian penting hilirisasi kakao Pesawaran

OJK juga mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip “legal dan logis” dalam menggunakan jasa keuangan, yakni pastikan berizin OJK dan tidak tergiur keuntungan takk masuk akal

Integrasi pengeringan, pembiayaan, peningkatan kapasitas petani, UMKM, budaya, dan pariwisata diharapkan membentuk ekosistem ekonomi desa yang menciptakan nilai tambah di daerah asal, sehingga petani tak lagi bergantung pada musim ujarnya (*)

ubernur Provinsi  Lampung Rahmad Mirzani Djausal  Dorong Hilirisasi Kakao dari Desa di Pesawaran

Pesawaran  Biba News. – Gubernur Provinsi  Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong hilirisasi kakao mulai dari desa. Ini agar petani langsung menikmati nilai tambah perkebunan. Keterbatasan fasilitas pengering membuat petani hanya bisa menjual mahal saat musim kemarau.

“Strategi Lampung ke depan adalah mendesain struktur ekonomi agar inklusif, memakmurkan dan mengentaskan kemiskinan. Caranya hilirisasi, nilai tambah harus dari sumber bahan baku, yaitu di desa-desa,” kata Gubernur Mirza saat pemberdayaan desa wisata melalui pelatihan, penyerahan solar dryer, dan akselerasi ekonomi komoditas kakao di Pekon Ampai, Marga Punduh, Pesawaran, Kamis 8 Oktober 2026

Solar dryer bantuan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi solusi pengeringan di tingkat petani. Teknologi sederhana itu memungkinkan petani menghasilkan kakao kering secara konsisten sepanjang tahun

“Selama ini, saat panen di musim hujan, kakao basah terpaksa dijual murah karena tak ada pengering,” ujarnya

Ia menyebut, harga kakao basah dalam kondisi tertentu Rp20 ribu-Rp30 ribu per kilogram. Setelah kering bisa Rp70 ribu-Rp80 ribu. Pengeringan menjadi titik penting meningkatkan pendapatan petani

“Cokelat mahal kalau kering. Tapi petani hanya bisa jual mahal tiga atau empat bulan. Kondisi itu membuat pendapatan petani sangat bergantung cuaca dan musim panen,” terangnya

Pemprov Lampung mendorong agar nilai tambah tak berhenti penjualan bahan mentah. Dari total komoditas Lampung sekitar Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru Rp40 triliun atau di bawah 30 persen yang mengalami hilirisasi. Sebagian besar nilai tambah justru industri besar nikmati, sementara bahan baku dari desa

Karena itu, Mirza berharap Pekon Ampai tak hanya menjadi tempat pengeringan, tapi menjadi pusat produksi solar dryer

“Yang saya harapkan di Pekon Ampai tak hanya bisa mengeringkan, tapi bisa mencontoh, membuat pengering seperti ini, mendistribusikan, dan menjual pengering solar dryer ini di sepanjang pesisir Lampung,” jelasnya

Mirza menyebut produksi kakao Pesawaran termasuk terbesar di Indonesia dan tertinggi di Lampung, khususnya di wilayah pesisir

Data dari Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Lampung Eti Eliati memperkuat gambaran tersebut. Pesawaran memiliki luas lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun

OJK mendorong pengembangan melalui ekosistem closed-loop yang menghubungkan sektor hulu dan hilir. Skema ini mencakup akses pembiayaan, mitigasi risiko oleh penjamin, kepastian pasar dan harga melalui offtaker serta industri pengolahan, hingga pendampingan pemerintah daerah dan akademisi

Pada kegiatan itu PNM merealisasikan pembiayaan Rp318 juta untuk 50 debitur petani kakao. Dari sisi pembiayaan ultra mikro, PNM memiliki 490.000 nasabah di Lampung. Hingga September 2026, outstanding pembiayaan sekitar Rp2 triliun dan penyaluran sepanjang 2026 mencapai Rp2,04 triliun.

Di Pesawaran, nasabah PNM Mekaar 29.383 orang dengan outstanding Rp125,86 miliar
Pengembangan juga diperkuat lewat UMKM berbasis kakao. Gubernur meninjau usaha warga dan mendorong naik skala usaha

Mirza juga mengaitkan kakao dengan Desa Wisata Budaya Pekon Ampai. Pekon ini berstatus Kampung Tua berdasarkan Perda Pesawaran Nomor 6 Tahun 2019 dan memiliki potensi agroforestri kakao lewat perhutanan sosial

Menurutnya, letak Pekon Ampai strategis di antara destinasi wisata, seperti Gigi Hiu, Kiluan, Pulau Wayang, Pahawang, hingga Legundi

“Pekon Ampai harus memanfaatkan letak strategis ini. Kalau budaya maju dan lestari, semua orang akan datang melihat indahnya budaya Lampung,” kata Mirza

Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian menyebut dari 10 desa yang diusulkan, bantuan solar dryer diberikan ke tiga desa, yakni Sidodadi, Maja, dan Pekon Ampai. Dia meminta warga merawat fasilitas secara gotong royong

Pengembangan kakao diarahkan pada peningkatan kualitas lewat pengolahan dan fermentasi. OJK menilai peningkatan kapasitas petani, peremajaan tanaman, pencegahan alih fungsi hutan serta pengolahan dari biji mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi menjadi bagian penting hilirisasi kakao Pesawaran

OJK juga mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip “legal dan logis” dalam menggunakan jasa keuangan, yakni pastikan berizin OJK dan tidak tergiur keuntungan takk masuk akal

Integrasi pengeringan, pembiayaan, peningkatan kapasitas petani, UMKM, budaya, dan pariwisata diharapkan membentuk ekosistem ekonomi desa yang menciptakan nilai tambah di daerah asal, sehingga petani tak lagi bergantung pada musim ujarnya (*)

banner 325x300
banner 120x600